Bookmark and Share

Teori Belajar dari Sudut Pendekatan Lingkungan  

Posted in

Pendekatan pembelajaran yang bermakna akan membantu konsep-konsep yang ditemukan siswa selama proses pembelajaran mempengaruhi daya retensinya. Belajar memerlukan keterlibatan aktif baik berupa manipulasi langsung, penginderaan, maupun mengeksplorasi atas inisiatif sendiri. Memfokuskan hal-hal yang menarik bagi anak jauh lebih baik dibanding menarik perhatian mereka untuk melakukan aktivitas atas pilihan guru.
Teori belajar yang sesuai dengan pengembangan pendekatan lingkungan adalah teori belajar kognitif dan konstruktivis. Dasar dari pengembangan pendekatan lingkungan adalah teori belajar kognitif yang memberi tekanan pada organisasi pengamatan atas stimulus di dalam lingkungan serta pada faktor-faktor yang mempengaruhi pengamatan (Dalyono (1997). Dari pandangan Piaget tentang tahap perkembangan kognitif anak dapat dipahami bahwa pada tahap tertentu cara maupun kemampuan anak mengkonstruksi ilmu berbeda-beda berdasarkan kematangan intelektual anak. Piaget mengemukakan bahwa pengetahuan tidak diperoleh secara pasif oleh seseorang, melainkan melalui tindakan. Bahkan perkembangan kognitif anak bergantung pada seberapa jauh mereka aktif memanipulasi dan berinteraksi dengan lingkungannya (Poedjiadi, 1999 dalam Hamzah, 2008). Pengajaran yang baik mengajarkan siswa bagaimana belajar, bagaimana mengingat, bagaimana berpikir dan bagaimana memotivasi diri mereka sendiri (Corebima, 2006). Jadi pengajaran kognitif ini mengajarkan siswa untuk belajar mandiri dan atas kemauan mereka sendiri. Menurut Nur (2008) kognitivis mempunyai pandangan tentang pembelajaran mandiri dimana siswa lebih bersandar pada strategi-strategi kognitif mereka sendiri dalam mengembangkan sumber belajar yang tersedia. Kognitivisme mempunyai cara pandang yang berbeda terhadap pola-pola pembelajaran tentang bagaimana informasi diterima, diproses, diolah, dan dimanipulasi oleh pebelajar. Kognitivis menciptakan model mental (pada para pebelajar) tentang memori jangka pendek dan memori jangka panjang.
Berdasarkan pandangan konstruktivis-kognitif (Arends,1997:163) menyatakan bahwa siswa dalam segala usia secara aktif dapat terlibat dalam proses perolehan informasi serta membangun pengetahuan mereka sendiri. Konstruktivis memandang keterlibatan siswa dalam pengalaman-pengalaman bermakna merupakan inti suatu pembelajaran. Para konstruktivis berpendapat bahwa siswa meletakkan pengalaman baru di dalam pengalaman belajar mereka sendiri, dan tujuan pengajaran bukan mengajarkan informasi tetapi menciptakan situasi sehingga siswa dapat menafsirkan informasi untuk pemahaman diri mereka sendiri. Konstruktivis yakin bahwa pembelajaran paling efektif terjadi apabila siswa terlibat dalam tugas-tugas autentik yang berhubungan dengan konteks bermakna.
Teori konstruktivis adalah suatu ide bahwa setiap siswa harus secara individu dapat menemukan dan mentransfer informasi-informasi kompleks apabila mereka harus menjadikan informasi tersebut untuk dimilikinya. Oleh karena dalam pengajaran konstruktivis penekanan diarahkan pada siswa sebagai siswa yang aktif, sehingga dinamakan pembelajaran yang terpusat pada siswa atau student-centered instruction (Nur, 2000).
Implikasi dari teori belajar konstruktivisme dalam pendidikan anak menurut Hamzah, (2008) adalah sebagai berikut: (1) tujuan pendidikan menurut teori belajar konstruktivisme adalah menghasilkan individu atau anak yang memiliki kemampuan berfikir untuk menyelesaikan setiap persoalan yang dihadapi, (2) kurikulum dirancang sedemikian rupa sehingga terjadi situasi yang memungkinkan pengetahuan dan keterampilan dapat dikonstruksi oleh peserta didik. Selain itu, latihan memecahkan masalah seringkali dilakukan melalui belajar kelompok dengan menganalisis masalah dalam kehidupan sehari-hari dan (3) peserta didik diharapkan selalu aktif dan dapat menemukan cara belajar yang sesuai bagi dirinya. Guru hanyalah berfungsi sebagai mediator, fasilitator, dan teman yang membuat situasi yang kondusif untuk terjadinya konstruksi pengetahuan pada diri peserta didik.
Sudut pandang teori belajar konstruktivis agar pengetahuan siswa yang diberikan kepada siswa bermakna, maka siswa sendirilan yang harus memproses sendiri informasi yang diterimanya, menstrukturkannya kembali dan mengintegrasikan dengan pengetahuan yang sudah dimilikinya (Susantini, 2010). Selanjutnya dijelaskan contoh konstruktivisme dalam pembelajaran IPA/Biologi antara lain siklus belajar, strategi metakognitif dan pembelajaran koopertif. Dalam siklus belajar ada tiga tahapan yaitu (1) tahap eksplorasi, siswa mengalami/mengindera objek secara langsung sehingga memperoleh pengalaman fisik dan interaksi social (2) tahap pengenalan konsep, memberikan kesempatan siswa untuk berinteraksi dengan teman dan guru sehingga siswa mampu mengasimilasi dan mengakomodasi gagasan tertentu untuk menarik kesimpulan dari beberapa pengalaman yang telah dimilikinya (3) tahap penerapan konsep, menerapkan konsep yang baru pada situasi dan kondisi yang berbeda dimana pengalaman ini membantu siswa menemukan jawaban terhadap pertanyaan yang muncul selama tahap eksplorasi dan tahap pengenalan konsep.
»»  Baca lanjutannya ...
Bookmark and Share

Pendekatan Lingkungan dalam Pembelajaran  

Posted in , ,

Lingkungan dalam Ensikloppedia Indonesia (1983) adalah segala sesuatu yang ada di luar suatu organisme, meliputi: (1) lingkungan mati (abiotik), yaitu lingkungan di luar suatu organisme yang terdiri atas benda atau faktor alam yang tidak hidup, seperti bahan kimia, suhu, cahaya, grafitasi, atmosfer, dan lainnya, (2) lingkungan hidup (biotik) , yaitu lingkungan di luar suatu organisme yang terdiri dari organisme hidup, seperti tumbuhan, hewan, dan manusia. Menurut Zaidin (2000) dalam pengertian yang lain lingkungan itu merupakan kesatuan ruang dengan semua benda dan keadaan makhluk hidup termasuk di dalamnya manusia dan perilakunya serta makhluk hidup lainnya.
Pendekatan lingkungan merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang berusaha untuk meningkatkan keterlibatan siswa melalui pendayagunaan lingkungan sebagai sumber belajar. Pendekatan ini berasumsi bahwa kegiatan pembelajaran akaan menarik siswa, jika apa yang dipelajari diangkat dari lingkungan, sehingga apa yang dipelajari berhubungan dengan kehidupan dan berfaedah bagi lingkungan (Khusnin, 2008). Menurut Yulianto (2002) pendekatan lingkungan berarti mengaitkan lingkungan dalam suatu proses belajar mengajar dimana lingkungan digunakan sebagai sumber belajar. Untuk memahami materi yang erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari sering digunakan pendekatan lingkungan. Sehingga dapat dikatakan lingkungan yang ada di sekitar merupakan salah satu sumber belajar yang dapat dioptimalkan untuk pencapaian proses dan hasil pendidikan yang berkualitas. Lingkungan dapat memperkaya bahan dan kegiatan belajar.
Lingkungan merupakan salah satu sumber belajar yang amat penting dan memiliki nilai-nilai yang sangat berharga dalam rangka proses pembelajaran siswa. Penggunaaan lingkungan memungkinkan terjadinya proses belajar yang lebih bermakna sebab anak dihadapkan pada kondisi yang sebenarnya. Pelajaran biologi dengan menggunakan bahan-bahan alami lebih menguntungkan bagi siswa dan pengalaman bersahabat dengan alam lebih cenderung menyiapkan perasaan positif bagi siswa terhadap keajaiban alam. Hal senada juga diungkapkan Suniarsih (2006) yaitu berlangsungnya proses pembelajaran tidak terlepas dengan lingkungan sekitar.
Pendidikan lingkungan sebagai suatu dimensi, di dalam pembelajarannya menggunakan pendekatan lingkungan. Di dalam model pengajaran, pendekatan ini diklasifikasikan berdasarkan lingkungan belajarnya. Jadi pendekatan lingkungan tidak memiliki sintaks pembelajaran. Karli dan Margaretha (2002) menjelaskan bahwa pendekatan lingkungan adalah suatu strategi pembelajaran yang memanfaatkan lingkungan sebagai sasaran belajar, sumber belajar, dan sarana belajar. Hal tersebut dapat dimanfaatkan untuk memecahkan masalah lingkungan, dan untuk menanamkan sikap cinta lingkungan.
Pembelajaran melalui pendekatan lingkungan kini dipopulerkan dengan istilah outbond yaitu suatu program pembelajaran di alam terbuka yang
berdasarkan pada prinsip experimential learning yaitu belajar melalui pengalaman
langsung. Nasution (1976:197) dalam Habiba (2006) mengatakan pendekatan lingkungan atau karyawisata adalah pendekatan yang berorientasi pada alam bebas dan nyata, tidak harus selalu ke tempat yang jauh tetapi dapat dilakukan di lingkungan alam sekitar kita. Jadi menggunakan pendekatan lingkungan dalam pembelajaran adalah memanfaatkan atau menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar untuk keperluan pengajaran dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Penggunaan pendekatan lingkungan berarti mengaitkan lingkungan dalam suatu proses belajar mengajar dimana lingkungan digunakan sebagai sumber belajar.
Pendekatan lingkungan berarti mengajak siswa belajar langsung ke lapangan tentang konsep pelajaran. Pendekatan lingkungan berpangkal pada adanya hubungan antara perkembangan fisik manusia dengan lingkungan yang ada di sekitarnya. Belajar melalui pendekatan lingkungan bukan berarti mengeksploitasi terhadap alam, akan tetapi hanya menggunakan jasa alam untuk memenuhi kebutuhan pengetahuan.
Menurut Hidayah (2006) pendekatan lingkungan sebagai salah satu alternatif pendekatan dalam pembelajaran biologi sudah mulai diterapkan. Pendekatan lingkungan sebagai pendekatan dalam pembelajaran biologi juga dapat dipadukan dengan pendekatan lain. Pembelajaran dengan pendekatan lingkungan lebih bermakna bila dikombinasikan dengan pembelajaran kooperatif. Didalam pembelajaran siswa bekerja sama dengan kelompoknya serta saling membantu dalam belajar. Pendekatan lingkungan diwujudkan dengan cara menampilkan contoh-contoh penerapan biologi yang terdapat di lingkungan siswa.
»»  Baca lanjutannya ...
Bookmark and Share

Nominasikan Blog Favorit Anda : The 2010 Edublog Awards  

Posted in

Bagi anda yang memiliki blog pendidikan yang jadi favorit serta sering dikunjungi, mari nominasikan dalam The 2010 Edublog Awards.
Dalam even kali ini dibuka untuk 23 kategori, yaitu :
1. Best individual blog
2. Best individual tweeter
3. Best group blog
4. Best new blog
5. Best class blog
6. Best student blog
7. Best resource sharing blog
8. Most influential blog post
9. Most influential tweet / series of tweets / tweet based discussion
10. Best teacher blog
11. Best librarian / library blog
12. Best school administrator blog
13. Best educational tech support blog
14. Best elearning / corporate education blog
15. Best educational use of audio
16. Best educational use of video / visual
17. Best educational wiki
18. Best educational podcast
19. Best educational webinar series
20. Best educational use of a social network
21. Best educational use of a virtual world
22. Best use of a PLN
23. Lifetime achievement
Sebagai partisipan, saya menominasikan kategori Best Teaccher Blog yaitu Log Guru Kimia Borneo. Blok ini sudah lama saya jadikan acuan dalam pengembangan profesi saya sebagai guru.
Silakan anda berpartispasi dalam menominasikan blok pendidikan. Caranya :
1. Posting artikel yang berisi link The Edublog Awards Homepage, dan juga link blog yang anda nominasikan.
2. Mengisi form pada situs The Edublog Awards Homepage.

Selamat menominasikan
»»  Baca lanjutannya ...
Bookmark and Share

Ragam Vegetasi di Ruang Terbuka Hijau Sekolah  

Posted in ,

Berikut adalah beberapa vegetasi yang tumbuh di lingkungan SMAN 1 Banjarbaru.
1. Agave Amerika (Agave americana)
2. Akalifa (Acalypha wilkesiana)
3. Andong (Cordyline fruticosa)
4. Asoka (Saraca indica)
5. Bakungan (Hymenocallis litthoralis)
6. Bayam merah (Alternanthera amoena)
7. Beras Wutah (Dieffenbachia amoena)
8. Boroco (Celosia argentea)
9. Bougenvil (Bougainvillea glabra)
10. Bunga Lilin (Pachystachys lutea)
11 Cemara Kipas (Cupressus sempervirens)
12. Daun Ungu (Graptophylum pictum)
13. Drakaena “Song of India” (Dracaena reflexa)
14. Glodokan (Polyalthia longifolia)
15. Hanjuang (Cordyline fruticosa)
16. Jati (Tectona grandis)
17. Kamboja Jepang (Adenium obesum)
18. Kana (Canna indica)
19. Karet Kebo (Ficus elastica)
20. Keladi Hias (Caladium sp)
21. Kembang Sepatu (Hibiscus rosa-sinensis)
22. Kembang Wali Songo (Scheffiera arbolicora)
23. Ketapang Cina (Cassia alata)
24. Kucai Jepang (Carex morrowii)
25. Lidah Buaya (Aloe vera)
26. Lidah Mertua (Sansevieria trifasciata)
27. Mangga (Mangifera indica)
28. Melati (Jasminum sambac)
29. Nangka (Artocarpus heterophyllus)
30. Nenas Kerang (Rhoeo spathacea)
31. Pachypodium Lamerei (Pachypodium lamerei)
32. Paku Sarang Burung (Asplenium nidus)
33. Palem Kipas (Livistona chinensis)
34. Palem Putri (Veitchia merillii)
35. Petai Cina (Leucaena leucocephala)
36. Pisang Hias (Heliconia colinsiana)
37. Puring (Codiaeum variegatum)
38. Puring (Codiaeum variegatum)
39. Rumput Fatimah (Labisia pumila)
40. Rumput Gajah (Pennisetum purpureum)
41. Rumput Jepang (Pennisetum purpureum)
42. Sri Rejeki (Dieffenbachia seguine)

Vegetasi di lingkungan SMAN 3 Banjarbaru.
1. Akasia (Acacia auriculiformis)
2. Albasia (Albizia falcataria)
3. Angsana (Pterocarpus indicus)
4. Asoka (Ixora coccinea)
5. Bambu Cina (Bambusa multiplex)
6. Belimbing Manis (Averrhoa carambola)
7. Beras Wutah (Dieffenbachia amoena)
8. Bougenvil (Bougainvillea glabra)
9. Cemara Kipas (Cupressus sempervirens)
10. Cocor Bebek (Kalanchoe blossfeldiana)
11 Glodokan (Polyalthia longifolia)
12. Ilalang (Imperata cylindrica)
13. Jambu Biji (Psidium guajava)
14. Kaktus Centong (Opuntia cochenillifera)
15. Karamunting (Ochthocharis bornensis)
16. Kembang Merak (Caesalpinia pulcherrima)
17. Kembang Sepatu (Hibiscus rosa-sinensis)
18. Kenanga (Cananga odorata)
19. Ketapang Cina (Cassia alata)
20. Kuping Gajah (Anthurium crystallinum)
21. Lidah Buaya (Aloe vera)
22. Lidah Mertua (Sansevieria trifasciata)
23. Mangga (Mangifera indica)
24. Nangka (Artocarpus heterophyllus)
25. Nusa Indah (Mussaenda philippica)
26. Palem Putri (Veitchia merillii)
27. Pepaya (Carica papaya)
28. Petai (Parcia specioa)
29. Petai Cina (Leucaena leucocephala)
30. Pisang (Musa paradisiaca)
31. Puring (Codiaeum variegatum)
32. Putri Malu (Mimosa pudica)
33. Rumput banta (Leersia hexandra)
34. Rumput Bebek (Echinochloa colona)
35. Rumput Belulang (Eleusine indica)
36. Rumput Gajah (Pennisetum purpureum)
37. Rumput Teki (Cyperus rotundus)
38. Sarikaya (Annona squamosa)
39. Sawo Manila (Manilkara zapota)
40. Sirsak (Annona muricata)
41. Teh-tehan (Acalypha siamensis)

Vegetasi di lingkungan SMA PGRI 1 Banjarbaru.
1. Andong (Cordyline fruticosa)
2. Asoka (Ixora coccinea)
3. Beras Wutah (Dieffenbachia amoena)
4. Bougenvil (Bougainvillea glabra)
5. Cocor Bebek (Kalanchoe blossfeldiana)
6. Glodokan (Polyalthia longifolia)
7. Jambu Bol (Syzygium malaccense)
8. Kacapiring (Gardenia augusta)
9. Kaktus Centong (Opuntia cochenillifera)
10. Kembang Sepatu (Hibiscus rosa-sinensis)
11 Kenanga (Cananga odorata)
12. Ketapang Cina (Cassia alata)
13. Kuping Gajah (Anthurium crystallinum)
14. Lidah Buaya (Aloe vera)
15. Mangga (Mangifera indica)
16. Nangka (Artocarpus heterophyllus)
17. Nusa Indah (Mussaenda philippica)
18. Palem Putri (Veitchia merillii)
19. Puring (Codiaeum variegatum)
20. Rumput Gajah (Pennisetum purpureum)
21. Rumput Teki (Cyperus rotundus)
22. Sukun (Artocarpus communis)
»»  Baca lanjutannya ...
Bookmark and Share

Evaluasi Kesesuaian Program Keahlian SMK Terhadap Potensi Unggulan Daerah di Kota Banjarbaru  

Posted in ,

Oleh : Ibnu Yusa
Pascasarjana Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Kebijakan strategis terkait dengan pemerataan dan perluasan akses pendidikan adalah memperluas akses terhadap pendidikan SMK sesuai dengan kebutuhan dan keunggulan lokal. Dengan demikian kebijakan pokok pembangunan pendidikan nasional lebih ditekankan pada perluasan akses SMK dari pada SMA. Arah kebijakan ini adalah untuk mencapai komposisi jumlah murid SMK dengan jumlah murid SMA dengan perbandingan 70 % : 30 %. Perluasan SMK ini dilaksanakan melalui penambahan program pendidikan kejuruan yang lebih fleksibel sesuai tuntutan pasar kerja yang berkembang.
Tujuan Penelitian ini, untuk mendiskripsikan sektor yang menjadi potensi unggulan daerah di Kota Banjarbaru, untuk menganalisis Program Keahlian SMK yang sesuai dengan potensi unggulan daerah di Kota Banjarbaru, dan menentukan prioritas terhadap pengembangan Program Keahlian SMK yang sesuai dengan potensi unggulan daerah di Kota Banjarbaru.
Metode yang digunakan dalam proses analisis data adalah, dengan cara dokumentasi tentang Program Keahlian dari tujuh SMK di Kota Banjarbaru, dianalisis secara deskriptif. Untuk mengetahui potensi unggulan daerah, digunakan analisis LQ (Location Qoutien) PDRB daerah Kota Banjarbaru terhadap PDRB Propinsi Kalimantan Selatan. Selain itu juga analisis pertumbuhan ekonomi. Untuk mengetahui Program Keahlian SMK yang sesuai dengan potensi unggulan daerah digunakan analisis chek list berskala. Untuk menentukan prioritas terhadap pengembangan Program Keahlian yang sesuai dengan potensi unggulan daerah di Kota Banjarbaru, digunakan analisis IPA (Importance Performance Analysis).
Dari perhitungan LQ lima tahun series atas sembilan lapangan usaha, menunjukkan bahwa ada enam lapangan usaha yang merupakan sektor basis (unggulan) dan tiga lapangan usaha yang non basis.
Dari 18 Program Keahlian SMK yang ada, 16 diantaranya mendapatkan Chek List, ini berarti bahwa 16 Program Keahlian tersebut memang telah sesuai dengan potensi unggulan daerah Kota Banjarbaru. Selanjutnya dari 16 Program Keahlian tersebut dipilih satu Program Keahlian yang memiliki tingkat kesesuaian paling tinggi dengan potensi unggulan daerah untuk di analisis prioritas pengembangannya. Dari perhitungan skala tingkat kesesuaian, diketahui bahwa Program Keahlian Teknik Konstruksi Batu dan Beton memperoleh angka tertinggi dibandingkan dengan Program Keahlian yang lain.
Dari 10 variabel yang dianalisis untuk kemungkinan pengembangan Program Keahlian Teknik Konstruksi Batu dan Beton, diketahui ada tiga variabel yang merupakan prioritas utama untuk dikembangkan/dibenahi, karena ketiga variabel tersebut oleh stakeholder dianggap sangat penting, namun pelaksanaannya belum memuaskan. Tiga variabel tersebut adalah: Pengadaan Ruang Kelas Baru (RKB), Pengadaan Perpustakaan dan Beasiswa untuk siswa kurang mampu.

Kata Kunci : Program Keahlian SMK, Potensi Unggulan Daerah.
»»  Baca lanjutannya ...
Bookmark and Share

Perencanaan Pendidikan  

Posted in ,

Manusia lahir dalam kondisi tidak mempunyai pengetahuan dan ketrampilan apa-apa, sedangkan untuk menjadikan manusia menjadi ahli apapun tergantung pendidikannya, menurut teori tabularasa dalam ilmu pendidikan (Jonh Locke dan Bacon) mengatakan bahwa anak yang baru dilahirkan itu dapat diumpamakan sebagai kertas putih bersih yang belum ditulis (a sheet of white paper of all characters) jadi sejak lahir anak itu tidak mempunyai bakat dan pembawaan apa-apa. Anak dapat dibentuk sesuai dan sekehendak pendidikannya. Disini kekuatan ada pada pendidik, pendidikan atau lingkungan berkekuatan untuk membentukan anak didiknya. Pendidikan merupakan upaya yang dapat mempercepat pengembangan potensi sumber daya manusia untuk mampu mengemban tugas yang dibebankan kepadanya, hal ini karena hanya sumber daya manusia yang dapat di didik dan mendidik. Karena pendidikan adalah kegiatan sosial yang hasilnya baru dapat dilihat atau dinilai dalam waktu yang relatif lama. Pendidikan yang diharapkan di sini adalah pendidikan yang dapat mendukung proses peningkatan kualitas sumber daya manusia sehingga nantinya pendidikan ini dapat mendukung proses pembangunan di suatu daerah ataupun Negara.
Menurut LAN_RI (2003) Pendidikan dan pelatihan menggabungkan pengertian dari kata-kata pendidikan dan pelatihan yaitu suatu “Pendidikan adalah suatu proses, tehnis dan metode belajar mengajar dengan maksud mentransfer suatu pengetahuan dari seseorang kepada orang lain melalui prosedur yang sistimatis dan terorganisir yang berlangsung dalam jangka waktu yang relatif lama.
Pengembangan sumber daya manusia adalah kegiatan belajar yang diadakan dalam jangka waktu tertentu guna memperbesar kemungkinan untuk meningkatkan kinerja dan dirancang secara matang. Tujuan yang hendak dicapai dengan pengembangan adalah pertumbuhan Sumber daya manusia untuk meningkatkan kinerja yang terlibat didalamnya dari tingkat atas sampai tingkat bawah. Dengan pengembangan diharapkan terjadi peningkatan produktifitas dan efektivitas dalam lembaga tersebut.
Dalam UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional arti pendidikan dirumuskan sebagai berikut :
“Usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan sepiritual keagamaan kecerdasan ahlak mulia serta ketrampilan”
Adapun alasan-alasan perlunya suatu perencanaan itu dilakukan menurut Tjokroamidjojo (1995) didasarkan pada tiga hal yaitu pada:
1. Penggunaan sumber-sumber penggunaan secara efisien dan efektif
2. Keperluan mendobrak kearah perubahan ekonomi dan dan sosial masyarakat
3. Yang terpenting adalah arah perkembangan untuk kepentingan keadilan sosial
Dari beberapa teori dan pendapat di atas pengembangan sumber daya manusia sangat penting, hal ini ditujukan untuk mengelola potensi yang dimiliki wilayah, sehingga setiap pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah daerah bermanfaat sangat besar pada komunitas masyarakat yang ada di wilayahnya.
Perencanaan pendidikan menurut Combs (1982) dalam Saud et all (2005), “Perencanaan pendidikan adalah suatu penerapan yang rasional dari analisa sistematis proses perkembangan pendidikan dengan tujuan agar pendidikan lebih efektif dan efisien serta sesuai dengan kebutuhan dan tujuan para peserta didik dan masyarakat.
Perencanaan pendidikan menurut Saud et all (2005), “Perencanaan pendidikan adalah suatu kegiatan melihat masa depan dalam hal menentukan kebijkanan, prioritas dan biaya pendidikan dengan mempertimbangkan kenyataan-kenyataan yang ada dalam bidang ekonomi, sosial, dan politik untuk mengembangkan system pendidikan Negara dan peserta didik yang dilayani”.
Dari definisi diatas, ada beberapa unsur penting yang terkandung dalam perencanaan pendidikan :
1. Penggunaan analisa yang bersifat rasional dan sistematik dalam perencanaan pendidikan
2. Proses pembangunan dan pengembangan pendidikan
3. Prinsip efektif dan efisiensi, artinya dalam perencanaan pendidikan pemikiran ekonomis sangat menonjol.
4. Kebutuhan dan tujuan peserta didik dan masyarakat, artinya perencanaan pendidikan mencakup aspek internal dan eksternal dari keorganisasian sistem pendidikan itu sendiri.
Perencanaan pendidikan sudah pasti harus memperhatikan faktor lingkungan, situasi perekonomian dan faktor kebutuhan sosial politik, karena pendidikan pembentukan watak manusia. Oleh karena itu perencanaan pendidikan yang dilakukan harus menyeluruh dan terpadu serta disusun secara logis dan rasional mencakup berbagai jalur, jenis dan jenjang pendidikan. Selain itu perencanaan pendidikan juga harus menggunakan sumber data yang tepat.
Data dasar (base line data) untuk perencana pendidikan mempunyai fungsi yang amat penting, sebab tanpa data perencanaan tidak mungkin dapat menegembangkan perencanaan pendidikan dengan baik. Data dasar ini mencakup berbagai aspek di dalam dan di luar yang mempunyai hubungan erat dengan pendidikan. Menurut Saud et all (2005) data dasar yang diperlukan dapat dikelompokkan :
1. Kependudukan
2. Data ekonomi
3. Kebijakan nasional
4. Data kependidikan
5. Data ketenagakerjaan
6. Nilai dan sosial budaya
Salah satu pendekatan dalam perencanaan pendidikan adalah analisis kebutuhan sosial. Dalam hal ini perencanaan pendidikan harus memperhitungkan kebutuhan pada masa sekarang dan yang akan datang. Jenis pendidikan di Indonesia sebagaimana terdapat pada Undang-Undang No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Pendidikan formal meliputi pendidikan kecakapan hidup, pendidikan anak usia dini, pendidikan kepemudaan, pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan keaksaraan pendidikan ketrampilan dan pelatihan kerja, pendidikan kesetaraan, serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik. Di samping juga satuan pendidikan nonformal terdiri atas lembaga kursus, lembaga pelatihan, kelompok belajar, pusat kegiatan belajar masyarakat, dan majelis taklim, serta satuan pendidikan sejenis sangat dibutuhkan keberadaannya. Disamping juga keberadaan pendidikan nonformal diselenggarakan bagi warga masyarakat yang membutuhkan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti penambah dan/atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat. Pendidikan formal berfungsi mengembangkan potensi peserta didik dengan penekanan penguasaan pengetahuan dan ketrampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional.
Dalam rumusan tujuan perencanaan dalam bentuk yang lebih konkrit didasari dengan informasi yang akurat bukan hanya mengenai keadaan yang sekarang melainkan juga lebih dikembangkan proses perencanaan di masa mendatang, (Muljana: 2001).
»»  Baca lanjutannya ...
Bookmark and Share

Kompetensi Guru dalam Efektivitas Sumber Belajar  

Posted in ,

Oleh : Ilham Alfian Nor, 2010


Sebanyak 69,7% responden menyatakan bahwa seorang guru harus memiliki kompetensi bidang studi dalam menggunakan sumber belajar ruang terbuka hijau sekolah (Alfian Nor : 2009)


Diperlukan kompetensi yang baik dalam penerapan strategi penggunaan RTH sekolah sebagai sumber belajar. Pengetahuan yang luas tentang karakteristik RTH sekolah sangat membantu dalam efektivitas dan efisiensi dalam pemanfaatannya sebagai sumber belajar. Karena tidak semua materi pembelajaran dapat menggunakan RTH sekolah sebagai sumber belajar. Diperlukan suatu kemampuan (kompetensi) untuk merancang dan mengorganisasikan agar RTH sekolah dapat diadopsi sebagai salah satu sumber belajar. Dengan demikian, guru harus selalu menambah kemampuan penguasaan terhadap materi pembelajaran ataupun strategi pembelajarannya, termasuk kemampuan dalam pengelolaan kelas. Hal yang demikian juga diperkuat dengan tulisan Murwani (2006) yang mengatakah bahwa guru harus terus menerus mengaktualisasikan diri, belajar memperluas dan memperdalam pengetahuannya agar dapat memfasilitasi siswa dalam belajar. Guru harus membuat dirinya kompeten dan profesional. Hal ini berarti guru perlu secara terus menerus mengembangkan kemampuannya dalam menguasai disiplin ilmu yang diajarkannya serta metode pembelajarannya.
Salah satu fungsi guru adalah sebagai pengelola kegiatan belajar mengajar. Sebagai pengelola pembelajaran (learning manager), guru berperan dalam menciptakan iklim belajar yang memungkinkan siswa dapat belajar secara nyaman. Melalui pengelolaan kelas yang baik guru dapat menjaga kelas agar tetap kondusif untuk terjadinya proses belajar seluruh siswa (Muhibbuddin : 2008). Sehingga kemampuan pengelolaan kelas sangat penting untuk dikuasai oleh guru, apalagi untuk model pembelajaran di luar kelas. Karena dalam pembelajaran di luar kelas, misalnya di RTH sekolah, siswa merasa lebih bebas dan cenderung mudah melakukan kegiatan tidak terarah. Jika hal demikian tidak dikelola, maka proses pembelajaran akan terganggu, bahkan nyaris tidak memiliki nilai lebih dibanding dengan pembelajaran di kelas.
Agar tercapai optimalisasi proses pembelajaran, sangat diperlukan motivasi seorang guru. Karena motivasi guru dapat mempengaruhi kualitas pembelajaran semakin tinggi motivasi kerja guru, maka semakin meningkat pula kinerja guru tersebut. Sehingga dengan motivasi yang tinggi, diharapkan proses pembelajaran dengan menggunakan RTH sekolah sebagai sumber belajar akan optimal.
Dalam hal pemberian insentif bagi guru yang menggunakan RTH sebagai sumber pembelajaran merupakan salah satu upaya dalam memotivasi guru agar dapat merubah proses pembelajaran agar lebih berkualitas. Karena secara naluri, seseorang yang ingin mendapatkan imbalan maka akan berupaya untuk menghasilkan sesuatu dengan lebih baik. Menurut Rahardja (2004), beberapa hal yang mempengaruhi tinggi rendahnya motivasi guru, antara kesesuaian imbalan yang diterima dan keahlian yang dimiliki, latar belakang pendidikan dan pekerjaan misalnya: bidang studi yang diajarkan, serta kepuasan karena terpenuhinya kebutuhan. Sehingga pemberian insentif termasuk hal yang penting dilakukan dalam upaya merubah gaya pembelajaran untuk menggunakan sumber belajar selain guru, misalnya RTH sekolah.
»»  Baca lanjutannya ...

Translate this site

Tanggal

Arsip