Bookmark and Share

Museum sebagai Sumber Belajar  

Posted in


Pada tanggal 19 November 2009 kemaren, Museum Lambung Mangkurat Banjarbaru melaksanakan sebuah seminar dengan tajuk Teknologi Imformasi dalam Pengelolaan Musem. Dalam seminar yang menampilkan pembicara dari luar Kota Banjarbaru tersebut, terungkap beberapa permasalahan yang saat ini dihadapi Museum Lambung Mangkurat, khususnya dalam penggunaan teknologi informasi dalam manajemen museum. Yang sangat ironis, sampai saat ini ternyata Museum Lambung Mangkurat tidak memiliki website (situs) sebagai sarana publikasi di dunia maya. Ini tentunya sangat menggelikan untuk sebuah lembaga dengan level regional dan merupakan institusi yang harus publikatif.
Wacana ini ditanggapi langsung oleh pimpinan museum, yang mengatakan bahwa sebenarnya pihak manajemen sudah membuat sebuah website, namun belum di launching karena masih dalam tahap pembuatan. Untuk sementara, kata beliau sudah ada staf museum yang menulis dalam sebuah blog. Yah lumayan mungkin, daripada tidak ada sama sekali.
Menurut penulis, masih banyak masyarakat atau siswa yang belum pernah menginjakkan kainya di Museum Lambung Mangkurat. Ini tercermin dari minimnya pengetahuan masyarakat (siswa) tentang benda-benda yang dikoleksi oleh Museum Lambung Mangkurat. Ini tentunya sangat memprihatinkan bagi dunia pendidikan, karena semua sumber ilmu tentang kebudayaan lokal Kalimantan Selatan telah tersedia di museum ini. Akibatnya hampir sebagian besar siswa tidak memahami dan mengetahui kebudayaan Banjar, sebagai kebudayaan lokal di Kalimantan Selatan. Musem sebagai lembaga yang bertugas untuk mengoleksi dan menyimpan benda-benda yang dianggap seni (budaya) dan bernilai sejarah, memiliki potensi yang besar untuk dijadikan obyek pendidikan dan penelitian. Bagi dunia pendidikan, museum merupakan salah satu sumber belajar. Karena hakikat sumber belajar adalah sesuatu hal, bisa benda atau orang, yang dapat menghasilkan informasi untuk dipelajari. Namun selama ini, penggunaan museum sebagai sumber belajar masih belum optimal, disebabkan beberapa hal, seperti faktor kesesuaian dengan silabus, metode pembelajaran, SDM guru, faktor waktu, faktor jarak, dan faktor lainnya.
Pada kesempatan seminar kemaren, penulis sempatkan juga untuk memberikan usulan agar pihak museum dan pihak terkait dapat melakukan sinergi (kerja sama) dalam mengoptimalkan museum sebagai sumber belajar bagi siswa. Diantaranya agar dapat disusun sebuah silabus yang berkenaan dalam pembelajaran di museum, silabus tersebut dapat dijadikan sebagai muatan lokal yang dapat disisipkan pada beberapa mata pelajaran. Selain itu, perlu diadakan pengayaan materi budaya dan sejarah lokal bagi guru-guru, yang dapat dilakukan dengan diklat atau penataran pendalaman mata pelajaran. Nampaknya usulan ini dapat diterima oleh pihak manajemen museum, dan akan disusun sebuah rencana (program kerja) yang menggandeng pihak-pihak terkait seperti Dinas Pendidikan dan sekolah-sekolah.
Dengan teknologi informasi yang akan digunakan dalam pengelolaan museum, diharapkan museum bukan lagi menjadi gedung yang terkesan angker, gelap dan membosankan. Masalah waktu dan tempat bukan lagi halangan bagi pengunjung yang akan melihat-lihat isi museum. Dengan hanya membuka website sebuah museum, maka pengunjung dapat mengeksplor isi museum, melihat foto benda-benda bersejarah, membaca keterangan yang menjelaskan perihal benda tersebut, bahkan dapat mendengar atau melihat video yang disuguhkan dalam galeri website. Selain itu, pengunjung dapat berinteraktif dengan manajemen museum untuk bertanya, mengusulkan, atau menanggapi tentang hal-hal permuseuman. Bagi siswa tentunya juga akan mempermudah dalam upaya mendapatkan lebih banyak informasi, tanpa harus datang langsung ke museum. Cukup dengan mengakses website museum dari sekolah atau rumah, siswa dapat menggali informasi dalam rangka pemahaman materi atau pengayaan.
Namun menurut pemakalah dari Arkeologi UGM Yogyakarta, menyatakan bahwa fasilitas website hanyalah merupakan sebuah ajang promosi. Selebihnya jika pengunjung ingin mengetahui lebih banyak, maka diharapkan agar datang langsung ke museum. Memang kelemahan website adalah pada display benda-benda museum, benda-benda hanya dapat ditampilkan dalam bentuk dua dimensi, atau mungkin dapat dibuat animasi tiga dimensi, namun pengunjung situs tidak dapat menyentuh benda secara langsung. Karena menurut pemakalah, touch akan memberikan cita rasa tersendiri dibanding hanya melihat fotonya.
Menurut hemat penulis, teknologi informasi yang diterapkan pada museum akan memberikan sumbangan yang besar dalam publisitas museum tersebut. Untuk hal-hal yang memerlukan pengamatan secara langsung, memang harus dilakukan dengan mengunjungi museum, namun paling tidak ada gambaran yang lengkap tentang isi museum pada website. Pengalaman penulis ketika ingin membaca Buku Perang Banjar, ternyata buku tersebut hanya ada di perpustakaan online luar negeri. Ini tentunya hal yang memprihatinkan bagi kita, masyarakat lokal Kalimantan Selatan. Walaupun versi cetaknya ada di Museum Lambung Mangkurat, namun karena saat sekarang era digitalisasi, tentunya versi e-book-nya akan dicari.
Terlepas dari hal tersebut, penulis memberikan penilaian sangat bagus untuk manajemen Museum Lambung Mangkurat yang memiliki keinginan kuat unruk menerapkan teknologi informasi dalam pengelolaannya. Jika dibandingkan dengan museum regional lainnya, Musem Lambung Mangkurat sudah selangkah lebih maju. Mudahan lebih maju lagi. !!!

Bookmark and Share

Mengharap Median Jalan Lebih Hijau Lagi  

Posted in


Kalau anda warga Kota Banjarbaru atau pengguna jalan di Kota Banjarbaru, maka anda akan melihat bahwa dalam sebulan terakhir ini median jalan A. Yani sedang dilakukan perbaikan. Tepatnya mulai bundaran simpang empat Banjarbaru sampai ke arah Pasar Minggu Raya. Perbaikan yang dilakukan kelihatannya “hanya” mengganti siring median dan tiang listrik yang ada di median tersebut. Selebihnya mungkin ada penambahan asesoris untuk mempercantik median tersebut.
Median jalan memiliki potensi untuk dibangun sebagai ruang terbuka hijau kota (RTHK). Median jalan jika ditanami dengan tumbuhan (vegetasi) merupakan salah satu bentuk RTH yang memanjang/menjalur. Sebagai salah satu media ruang terbuka hijau (RTH), median jalan akan lebih efektif jika dilakukan pelebaran. Artinya semakin lebar median jalan, maka semakin luas potensi RTH dapat dibangun, dan tentunya diharapkan akan lebih optimal fungsi RTH kota. Namun penulis memaklumi tidak dilakukannya pelebaran median, dengan alasan menyempitnya jalan akibat pelebaran median tentunya menjadi persoalan utama dalam mengatasi aksesbilitas pengguna jalan.
Median jalan dapat dioptimalkan sebagai lahan RTH dengan melakukan penanaman vegetasi di semua lahan median jalan. Median jalan yang diperkeras dengan elemen non tanaman tidak akan memberikan sumbangan terhadap optimalisasi ruang terbuka hijau kota (RTHK), malah akan menyumbang kenaikan suhu udara terhadap lingkungan sekitar.
Minimal tanaman jenis rumput-rumputan akan memberikan pandangan landsekap yang nyaman dan hijau. Apalagi jika vegetasi yang ditanam ditata, baik dari segi jenis, corak tajuk, warna serta bentuk vegetasi. Menurut penulis, penanaman vegetasi yang memiliki corak dan warna selain hijau malah memberikan view yang “menyilaukan” mata. Ini terlihat dari beberapa jenis tanaman yang ada di median jalan Kota Banjarbaru seperti tanaman Bayam Merah yang memiliki warna merah menyala. Alih-alih untuk memperindah kota, bahkan nampak kelam dalam pandangan pengguna jalan. Disarankan untuk vegetasi yang digunakan pada median jalan bersifat tahan terhadap tanah dan udara tercemar. Selain itu juga bersifat tahan terhadap kerusakan (luka) akibat gesekan atau akibat tangan jahil manusia.
Banyak manfaat dapat dirasakan oleh warga kota jika pada median jalan menjadi lebih hijau. Ruang terbuka hijau kota (RTHK) saat ini merupakan salah satu kebutuhan warga kota. Jadi bukan hanya sebagai pelengkap (asesoris) kota untuk keindahan atau seni. Warga Kota Banjarbaru yang merupakan kota terbesar kedua di propinsi ini tentunya ingin merasakan jalanan yang segar tanpa polusi udara, lingkungan yang asri serta suasana alam yang betul-betul fresh.
Secara ekologis, adanya vegetasi akan menciptakan iklim mikro yang akan mengurangi kenaikan suhu udara, kelembaban udara serta menghasilkan udara bersih yang sangat diperlukan dalam meningkatkan kualitas hidup warga kota. Selain itu, beberapa jenis vegetasi dapat menyerap zat-zat pencemar udara dan meredam kebisingan suara. Secara estetika, median jalan yang hijau memberikan view yang nyaman dinikmati. Namun juga harus diperhatikan aturan-aturan tata jalan agar median jalan tidak menghalangi pandangan pengguna jalan. Secara psikologis, pengguna jalan akan merasa nyaman dan rileks selama di jalan. Selain pandangan, kadang-kadang aroma tanaman akan menciptakan kesan nyaman dan fresh, bahkan mungkin dapat menurunkan kadar tekanan stres yang dirasakan akibat rutinitas.
Terlepas dari semuanya, median jalan di Kota Banjarbaru diharapkan akan menjadi lebih hijau dan lebih asri. Tentunya ini sudah disesuaikan dengan rencana tata kota yang telah ditetapkan.

Bookmark and Share

Wisata Hati : Makam Sunan Drajat  

Posted in



Perjalanan kami lanjutkan ke Kabupaten Lamongan, yaitu menuju Makam Sunan Drajat yang ada di Kecamatan Paciran. Dari Tuban, kami menumpang sebuah angkutan umum berupa minibus yang menuju ke arah Paciran, Lamongan. Perjalanan dilakukan dengan menyusuri pantai utara daerah Tuban, rata-rata perkampungan yang kami lalui adalah perkampungan nelayan dan mungkin hampir mayoritas penduduknya adalah beragama Islam, ini dilihat dari banyaknya masjid dan mushalla yang kami lalui. Menurut sejarah, daerah pantai utara memang merupakan derah pertama yang didatangi para pendakwah Islam. Sehingga suasana agamis terasa sekali disepanjang perjalanan kami menuju Paciran.
Ketika sampai dipertigaan Kecamatan Paciran, ternyata lokasi Makam Sunan Drajat berada di arah selatan sekitar satu kilometer dari pantai. Menurut petunjuk sopir, kami harus berjalan kaki ke lokasi makam, karena tidak ada angkutan umum yang masuk ke sana. Namun dengan kebaikan hati sopir, kami diantar sampai pintu gerbang lokasi makam. Suasana makam sangat ramai oleh pengunjung, mungkin karena waktu sudah hampir sore dan para peziarah bersiap-siap untuk pulang.
Melihat waktu yang sudah sore, kami bergegas untuk melakukan doa dan tahlil di makam Sunan Drajat. Seperti lokasi makam-makam yang lainnya, disekitar lokasi makam, banyak para pedagang menjual berbagai macam souvenir dan makanan. Namun para pedagang lebih banyak berjualan di lokasi pintu keluar makam, sedangkan di pintu masuk cukup sepi, sehingga para pengunjung tidak terlalu berjejal.
Pada lokasi makam Sunan Drajat, juga terdapat ratusan makam lainnya, namun hanya makam Sunan Drajat yang diberi bangunan kubah atau cungkup. Kubah Makam Sunan Drajat hampir sama seperti kubah Sunan Giri, berbentuk segi empat dengan atap yang sangat rendah. Penulis tidak sempat untuk masuk ke dalam kubah, karena banyaknya peziarah yang sudah duduk mengelilingi kubah.
Lokasi makam Sunan Drajat berada di perbukitan yang tinggi, di dalam lokasi juga terdapat sebuah masjid yang sederhana dan tidak begitu besar. Selain itu, juga terdapat museum yang menyimpang beberapa peninggalan Sunan Drajat dan benda-benda yang di pakai masa itu. Diantaranya adalah bedug yang masih bagus, beberapa sisa serpihan bangunan masjid, beberapa alat dakwah Sunan Drajat seperti gamelan, alat-alat yang dipakai sehari-hari seperti lampu, kursi, dan lain-lain. Melihat-lihat isi musium ternyata cukup mengasyikkan, karena disertai dengan ilustrasi pada barang-barang tersebut.
Tanpa terasa waktu tenyata berlalu begitu cepat, kami pun harus cepat-cepat keluar dari musium Sunan Drajat. Setelah bertanya sana-sini, akhirnya kami hanya dapat berjalan kaki ke arah utara menuju pertigaan Paciran, karena tidak ada angkutan umum yang menuju ke arah yang sama. Sesampainya di pertigaan Paciran, kami harus menunggu angkutan menuju Surabaya, yang menurut informasi setempat ada bis yang melayani Paciran-Bungurasih. Setelah menunggu lumayan lama, akhirnya sebuah bis kecil datang untuk membawa kami menuju Surabaya. Sambil melepas lelah di bis, penulis merenungkan perjalanan dua hari yang cukup melelahkan, namun hati telah terpuaskan dengan telah berziarah ke makam-makam para Wali Allah, yang jarang-jarang bisa dilakukan oleh orang-orang khususnya penulis yang berasal dari Kalimantan. Mudahan di lain waktu dapat datang kembali, ataupun menyambung ziarah ke Jawa Tengah dan Jawa Barat. Mudah-mudahan.

Al Qur’an ini dibuat pada zaman Sunan Drajat sekitar abad ke-16, yang ditulis dengan tulisan tangan, terbuat dari kulit domba dan serat tumbuh-tumbuhan.


Jadhug atau Cuplik atau lampu yang dipakai untuk mengaji Sunan Drajat.


Kitab Layang Ambiya, yaitu kitab yang berisi sejarah dan hikayat 25 rasul dan nabi. Terbuat dari kulit dan daun lontar.


Sisa-sisa perangkat Gamelan Singo Mengkok yang dipakai Sunan Drajat dalam berdakwah, yaitu melalui tembang-tembang pangkur yang diciptakan oleh beliau.

Bookmark and Share

Kisi-Kisi Ujian Nasional Mata Pelajaran Kimia SMA/MA Tahun Pelajaran 2009/2010  

Posted in

Lampiran Permendiknas No. 75 Tahun 2009
1. Menganalisis struktur atom, sistem periodik unsur dan ikatan kimia untuk menentukan sifat-sifat unsur dan senyawa.
a. Mendeskripsikan notasi unsur dan kaitannya dengan konfigurasi elektron serta jenis ikatan kimia yang dapat dihasilkannya
b. Memprediksi letak unsur dalam tabel periodik
c. Memprediksi jenis ikatan kimia/jenis interaksi molekuler
2. Menerapkan hukum-hukum dasar kimia untuk memecahkan masalah dalam perhitungan kimia.
a. Menyelesaikan perhitungan kimia yang berkaitan dengan hukum dasar kimia
b. Menganalisis persamaan reaksi kimia
3. Menjelaskan sifat-sifat larutan, metode pengukuran dan terapannya.
a. Menganalisis data daya hantar listrik beberapa larutan
b. Mendeskripsikan konsep pH larutan
c. Menghitung konsentrasi asam/basa pada proses titrasi asam basa
d. Menganalisis sifat larutan penyangga
e. Menghitung pH larutan garam yang terhidrolisis
f. Menyimpulkan terbentuknya endapan/larutan dari data Ksp
g. Menyimpulkan sifat koligatif larutan berdasarkan data
h. Menganalisis diagram PT yang berkaitan dengan sifat koligatif larutan
i. Menyimpulkan penerapan sifat koloid di dalam kehidupan sehari-hari
4. Memahami senyawa organik, gugus fungsi dan reaksinya, benzena dan turunannya, makromolekul serta lemak.
a. Menyimpulkan penerapan konsep minyak bumi yang berkaitan dengan efisiensi BBM
b. Mendeskripsikan senyawa turunan alkana
c. Mengidentifikasi senyawa benzena dan turunannya
d. Menganalisa data yang berhubungan dengan polimer
e. Mendeskripsikan makromolekul
5. Menentukan perubahan energi dalam reaksi kimia, cara pengukuran dan perhitungannya.
a. Menyimpulkan peristiwa eksoterm/endoterm pada peristiwa termokimia
b. Menentukan kalor reaksi
6. Memahami kinetika reaksi, kesetimbangan kimia, dan faktor-faktor yang memengaruhinya, serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari dan industri.
a. Menghitung laju reaksi berdasarkan data eksperimen
b. Mendeskripsikan faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi
c. Menganalisis pergeseran kesetimbangan
d. Menghitung harga Kc/Kp
7. Memahami reaksi oksidasi-reduksi dan sel elektrokimia serta penerapannya dalam teknologi dan kehidupan sehari-hari.
a. Mendeskripsikan persamaan reaksi redoks
b. Mendeskripsikan diagram sel volta
c. Menerapkan hukum Faraday
d. Mendeskripsikan fenomena korosi
8. Memahami karakteristik unsur-unsur penting, terdapatnya di alam, pembuatan dan kegunaanya
a. Mendeskripsikan mineral suatu unsur
b. Mendeskripsikan sifat unsur golongan tertentu
c. Mendeskripsikan cara memperoleh unsur dan kegunaannya

Bookmark and Share

Abstrak : PERSEPSI SISWA DAN GURU SMA TERHADAP PENGGUNAAN RUANG TERBUKA HIJAU SEKOLAH SEBAGAI SUMBER BELAJAR PADA PEMBELAJARAN IPA DI KOTA BANJARBARU  

Posted in

Ilham Alfian Nor
Pascasarjana Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, 2009

Abstrak

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi siswa dan guru terhadap penggunaan RTH sekolah sebagai sumber belajar dan memberikan strategi pengembangan RTH sekolah. Hasil penelitian mendapatkan bahwa persepsi siswa dan guru terhadap kompetensi dan kreativitas guru tergolong positif, persepsi siswa dan guru tentang minat dan motivasi siswa tergolong positif, persepsi siswa tentang karakteristik RTH sekolah tergolong positif, sedangkan guru mempersepsikannya negatif, persepsi siswa dan guru tentang program pengembangan RTH sekolah tergolong negatif, dan persepsi siswa dan guru tentang proses pembelajaran di RTH tergolong negatif. Dari analisis tingkat kepuasan dan harapan (IPA), menurut siswa variabel komponen RTH, sarana RTH, minat dan motivasi siswa, pembelajaran kontekstual, kenyamanan RTH, dan daya serap siswa, sudah memuaskan namun perlu ditingkatkan lagi. Sedangkan menurut guru, variabel motivasi dan kreativitas guru merupakan variabel yang penting namun masih belum memuaskan, sehingga perlu diprioritaskan untuk ditingkatkan. Dari hasil analisis AHP dihasilkan prioritas strategi pengembangan RTH sekolah sebagai sumber belajar yaitu 1) penataan komponen RTH; 2) meningkatkan kenyamanan RTH; 3) membangun sarana RTH; 4) meningkatkan motivasi dan kreativitas guru; 5) mengembangkan silabus; 6) meningkatkan minat dan motivasi siswa; 7) mengupayakan bantuan pihak luar.

Kata kunci : persepsi, ruang terbuka hijau (RTH), sumber belajar

Bookmark and Share

Batamat Al Qur’an : Khatam Al Qur’an  

Posted in

Batamat Al Qur'an adalah sebuah tradisi agamis yang telah lama dipertahankan oleh masyarakat Banjar, Kalimantan Selatan. Suku Banjar, terkenal dengan masyarakatnya yang sangat agamis, sehingga seluruh sendi kehidupan mereka selalu berlandaskan keagamaan. Batamat Al Qura'an merupakan salah satu tradisi agamis yang dilaksanakan ketika seseorang telah mengkhatamkan membaca Al Qur’an.
Setiap daerah di Kalimantan Selatan memiliki cara-cara tersendiri dalam melaksanakan tradisi batamat Al Qur’an. Terdapat perbedaan pada waktu pelaksanaan, perangkat yang digunakan dan tata cara pelaksanaan. Sebagian masyarakat melaksanakan batamat Al Qur’an pada saat acara pernikahan atau perkawinan. Biasanya mempelai (pengantin) yang melakukan batamat Al Qur’an. Tapi ada juga masyarakat yang melakukan pada bulan-bulan tertentu misalnyaBulan Mulud (Rabiul Awal), Namun semuanya merujuk pada kegiatan utama yaitu membaca Al Qur’an pada bagian akhir (Juz Amma).
Di Desa Simpang Mahar, Kecamatan Batu Benawa, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, tradisi batamat Al Qur’an biasanya dilaksanakan pada saat merayakan Hari Raya Iedul Fitri atau Iedul Adha. Lazimnya dilaksanakan pada hari raya tiga hari atau empat hari (hari ketiga atau keempat lebaran) dengan tempat di Masjid Al Amin, Simpang Mahar. Batamat Al Qur’an dapat diikuti oleh siapa pun baik anak-anak maupun sudah dewasa. Tapi pada umumnya yang mengikuti adalah anak-anak yang telah mekhatamkan membaca Al Qur’an yang mereka lakukan setiap malam.
Pada saat lebaran kemaren, telah dilakukan acara Batamat Al Qur’an di Simpang Mahar pada saat hari raya tiga hari (hari ketiga lebaran). Sebanyak 15 anak mengikuti kegiatan ini, rata-rata berumur 10 – 12 tahun. Persiapan yang dilakukan adalah kostum dan perangkat yang mengikuti sang “pengkhatam”. Kostum bagi anak laki-laki adalah baju gamis (jubah khas timur tengah) lengkap dengan sorban dan patah kangkung yang dipakai di kepala. Sedangkan bagi anak perempuan memakai baju sejenis jubah berenda dan bulang yang dipakai di kepala. Kostum ini adalah pakaian yang biasa dipakai jemaah haji ketika mereka pulang ke kampung halaman.
Selain kostum, juga disiapkan payung yang dibuat dari pelepah rumbia atau bambu. Payung diberi hiasan kertas warna-warni dan adakalanya tiang payung adalah bambu yang berisi telur rebus yang telah matang. Selain itu juga disiapkan balai (miniatur masjid) yang dibuat dari pelepah rumbia, yang diberi hiasan dengan kertas warna-warni. Di dalam balai ditempatkan ketan putih dan ketan merah, telur, dan makan-makanan kecil yang digantung. Untuk menambah semarak balai, maka juga ditancapkan beberapa bendera dari kertas dan uang. Balai disangga dengan dua potong pelepah rumbia agar dapat di usung ketika prosesi arak-arakan.
Prosesi dimulai saat anak keluar dari rumah untuk menuju masjid. Ketika di muka pintu, sang anak akan disambut dengan shalawat yang diiringi dengan lemparan baras kuning(beras kuning) bercampur uang koin ke halaman rumah. Anak-anak lain yang sudah menunggu di halaman rumah, akan memperebutkan uang koin yang dilemparkan tersebut. Selanjutnya sang anak akan diarak sambil dipayungi beserta rombongan lain menuju masjid. Di bagian depan arak-arakan, sang “pengkhatam” berjalan sambil dipayungi diiringi oleh balai yang diusung di belakangnya masing-masing.

Kemeriahan akan terasa lagi ketika rombongan arak-arakan ini tiba di masjid. Mereka akan disambut dengan shalawat dan hamburan baras kuning. Acara batamat Al Qur’an dilaksanakan di dalam masjid, sedangkan balai yang dibawa dari rumah di tempatkan di halaman masjid.
Hal yang unik dan ditunggu-tunggu para kerabat dan masyarakat yang berhadir pada acara tersebut adalah saat-saat memperebutkan semua makanan dan uang yang ditempatkan di dalam balai. Saking berharapnya, setiap anak (tak terkecuali yang dewasa) sudah mengelilingi balai ketika diturunkan di halaman masjid. Setiap orang siap-siap menjulurkan tangannya ke arah makanan dan bendera uang yang siap terlepas dari balai. Jika salah seorang sudah memulai mencabut bendera uang dengan tiba-tiba, maka serentak anak-anak dan orang tua berebut tanpa dapat dicegah lagi. Mereka akan memperebutkan semua makanan, ketan, telur, makanan ringan, bendera kertas, yang menjadi target utama biasanya adalah bendera uang dalam bentuk seribuan. Kadang-kadang saking ramainya, beberapa balai akan hancur akibat terhimpit, bahkan bisa-bisa sampai tertindih.
Perebutan makanan dan bendera balai, biasanya terjadi pada saat pembacaan Surah Al Fiil. Entah apa hubungannya dengan bunyi ayat yang dibaca, namun pada bacaan “Alam tarakaii fafa ‘ala ...”, maka sontak mereka yang telah siap dengan tangan menjulur akan menarik dan mengambil semua makanan dan bendera yang ada pada balai. Kalau dalam bahasa Banjar, “tarakai” artinya adalah rusak atau hancur, maka apakah ini terkait dengan rusaknya atau hancurnya balai akibat saling berebut.
Pembacaan Al Qur’an diteruskan secara bergantian oleh “pengkhatam”, sampai pada Surah AN Naas, kemudian dilanjutkan lagi dengan membaca Surah Al Fatihah di bagian depan Al Qur’an. Hal ini dimaksudkan agar membaca Al Qur’an terus-menerus dilakukan walaupun telah mengkhatamkan Al Qur’an. Kemudian dilanjutkan dengan pembacaan doa khatam Al Qur’an, dan selanjutnya masyarakat yang hadir dipersilakan untuk mendatangi rumah yang memiliki hajat untuk menyantap hidangan yang disediakan, tentunya hidangan khas Banjar, seperti soto Banjar, nasi sop, masak habang, ataupun masakan lainnya. Tidak ketinggalan ketan putih dan ketan merah.
Inilah sekilas tradisi Batamat Al Qur’an yang setiap tahun selalu diadakan masyarakat Simpang Mahar di Hulu Sungai Tengah.

Anak-anak diarak menuju Masjid Al Amin


Balai yang mengiringi arak-arakan.


Balai yang sudah rakai


Acara Batamat Al Qur'an

Bookmark and Share

Terus Berkarya .... : Selamat dan Sukses  

Posted

Akhirnya setelah berkutat dengan segala jenis perkuliahan dan tugas, beberapa teman sejawat dapat menyelesaikan pendidikan magisternya. Pada tanggal 17 Oktober 2009 kemaren telah dilakukan wisuda di Universitas Brawijaya, Malang, termasuk wisuda para wisudawan dari Magister Perencanaan Pendidikan Program Pascasarjana Universitas Brawijaya. Tentu ini merupakan saat yang dinanti-nantikan, setelah menjalani perkuliahan selama 18 bulan (sesuai target program) serta penyelesaian tugas akhir tesis, semua rekan yang hampir seluruhnya berasal dari Kalimantan Selatan dan Tengah, dapat merampungkan program magisternya.

Selamat dan sukses kepada rekan-rekan sejawat :
1. Bahrani, S.Pd, MT (Dinas Pendidikan Balangan)
2. Syahrudin, S.Pd, MT (SMAN 1 Paringin)
3. Suprapto, S.Pd, MT (Dinas Pendidikan Balangan)
4. Jumadi, SAP, MT (Camat Babirik, HSU)
5. Herlina Maulidah, ST, MT (Dinas Pendidikan HSS)
6. Ilham Alfian Nor, S.Pd, MT (SMKN 3 Banjarbaru)
7. Ibnu Yusa, S.Pd, MT (SMKN 3 Banjarbaru)
8. Imam Almadi, S.Pd, MT (SMAN 1 Banjarbaru)
9. M. Arsyad, S.Pd, MT (Dinas Pendidikan Banjarbaru)
10. Rusmaniah, S.Pd, MT (Dinas Pendidikan banjarbaru)
11. Sidik Widiantoro, SE, MT (Dinas Pendidikan Kapuas)
12. Samsi, S.Pd, MT (Dinas Pendidikan Kapuas)
13. Nazmiannoor, S.Pd, MT (PSB Kapuas)
14. Irwansyah, S.Hut, MT (Bappeda Pulang Pisau)
15. Agus Basrawiyanta, S.Pd, MT (Dinas Pendidikan Kotawaringin Barat)
16. Marthen Rummar, S.Pd, MT (SMKN 3 Merauke)

Pendidikan magister ini merupakan salah satu program beasiswa unggulan yang di prakarsai oleh Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri, Departemen Pendidikan Nasional.
Selamat dan sukses ...


Alamat IP Anda

IP

Tinggal Pesan


ShoutMix chat widget

Yang dibaca

Koment mereka

Kata Kunci

Translate this site

Tanggal